Di tengah kompleksitas persoalan pesisir Jakarta Utara mulai dari krisis air, isu sanitasi hingga limbah industri, lahir sebuah inisiatif yang memadukan seni, desain, dan aksi nyata bernama CORAL: Coastal Vernacular Lab.
CORAL bukan sekadar program edukasi, melainkan ruang kolaborasi lintas disiplin. yang berupaya menjawab tantangan lingkungan dengan pendekatan yang lebih membumi: design thinking yang berakar pada pengetahuan lokal.
Digagas oleh Museum MACAN bersama Grundfos Indonesia, dengan dukungan Poul Due Jensen Foundation dan kolaborasi Playo, program ini berlangsung dari Januari hingga Juni 2026.
Kehadirannya menjadi bagian dari rangkaian edukasi yang menyertai pameran Olafur Eliasson: Your Curious Journey di Museum MACAN, sekaligus memperluas peran museum sebagai ruang yang tidak hanya menampilkan karya, tetapi juga mendorong perubahan sosial.

Kalibaru menjadi titik awal perubahan. Salah satu titik penting ekonomi masyarakat di kawasan Cilincing, Jakarta Utara (sebuah wilayah dengan kepadatan tinggi) ini menghadapi persoalan serius terkait akses air bersih, sanitasi, serta ancaman banjir rob.
Di kawasan ini, industri kerang hijau menjadi sumber penghidupan utama, namun juga menyisakan persoalan baru: limbah cangkang dalam jumlah besar yang mencemari pesisir.
Melalui kemitraan dengan Cangkring (Cangkang Kering), limbah tersebut tidak lagi dipandang sebagai akhir, melainkan sebagai potensi. Berbagai inovasi pun dikembangkan. Menghasilkan produk fungsional seperti ubin, paving block, hingga solusi sanitasi.
Sekolah-sekolah lokal seperti SDN 09 Pagi dan SMKN 36 pun dilibatkan sebagai ruang belajar sekaligus laboratorium hidup bagi para pelajar untuk terlibat langsung dalam proses ini.
Transformasi Kreatif Benda di Sekitar Kita
Tiga kolektif desain Indonesia hadir sebagai motor penggerak kolaborasi di lapangan. Labtek Apung membawa pendekatan transdisipliner berbasis citizen science, Unconditional Design mengeksplorasi transformasi kreatif benda sehari-hari, sementara Kampung Kollektief mengedepankan ko-kreasi berbasis nilai dan kearifan lokal.
Seluruh proses dalam CORAL dirancang dalam lima fase yang saling berkelindan. Mulai dari orientasi dan ko-kreasi, residensi desainer selama 14 hari, hingga presentasi publik dan pameran akhir di Museum MACAN - Jakarta yang berlangsung pada 29 Mei hingga 7 Juni 2026.
Di sepanjang perjalanan ini, partisipasi juga datang dari karyawan Grundfos Indonesia yang terlibat sebagai relawan, memberikan edukasi WASH (Air, Sanitasi, dan Kebersihan) serta dukungan teknis.
Seni yang Melampaui Ruang
Kurator Edukasi dan Program Publik Museum MACAN Nin Djani mengatakan, CORAL menjadi salah satu wujud konkret dari keyakinan bahwa seni memiliki daya untuk mempengaruhi cara pandang masyarakat terhadap isu-isu besar —dari hal-hal kecil sekalipun.
Bahkan, menurutnya, seni terbentuk sekaligus mempengaruhi nilai-nilai sosial di sekitar kita. “Kita telah melihatnya dalam praktik Olafur Eliasson yang mengajak kita untuk terlibat dengan isu-isu ekologis di sekitar kita,” tutur Nin.
Isu lingkungan, lanjutnya, bersifat interseksional. Ini berarti bahwa setiap pihak memiliki peran untuk berkontribusi dalam upaya membuat perubahan. “Termasuk museum seni seperti kami,” tegasnya. “Kami berharap dapat menciptakan dampak yang bermakna melampaui batasan ruang dan dinding museum.”
Nin berharap, CORAL sebagai sebuah inisiatif-kolaboratif dapat menjadi platform pembelajaran bersama. "Di mana para desainer, pelajar, pendidik, komunitas, dan sektor swasta dapat berkolaborasi untuk menemukan solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat kita.”
Pernyataan ini menegaskan posisi CORAL sebagai jembatan antara praktik artistik dan realitas sosial. Menghadirkan seni bukan hanya sebagai refleksi, tetapi juga sebagai aksi.
Dari ‘Merancang untuk’ Menjadi ‘Merancang Bersama’
Lebih dari sekadar residensi desain, CORAL dipahami sebagai sebuah living lab. Ruang eksperimen kolektif yang mempertemukan para visioner dan seluruh ekosistem untuk menjelajahi perjalanan rasa ingin tahu, dengan menempatkan komunitas sebagai subjek utama.
Laboratorium hidup ini juga menjadi ruang diskursus untuk menemukan solusi alternatif bagi tantangan ekosistem. “Inisiatif ini menjadi kanvas bersama di mana para aktor lokal, manusia maupun non-manusia, bukan hanya didengar dan dilihat, tetapi menjadi ko-arsitek. Menggeser perspektif dari 'merancang untuk' menjadi 'merancang bersama," ujar Adil Alba, Chief Director Playo.
Di sinilah letak kekuatan utama CORAL: mengubah paradigma. Bukan lagi solusi yang datang dari luar, tetapi solusi yang tumbuh dari dalam. Melalui dialog, empati, dan kerja bersama.
Dengan mengintegrasikan seni, pendidikan, dan keberlanjutan, CORAL: Coastal Vernacular Lab menawarkan sebuah model baru bagi praktik kolaboratif di Indonesia. Ia menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari skala besar, melainkan dari komunitas —dari pesisir, dari limbah yang terabaikan, dan dari keberanian untuk merancang masa depan secara kolektif.