pintu-yang-setia-menunggu
Marhaban Ya Ramadan | Ai Generated
Reflection
PINTU YANG SETIA MENUNGGU
Muliadi Saleh - Esais Reflektif
Thu, 19 Feb 2026
"Tuhan tidak pernah lelah membuka pintu, hanya manusia yang kadang lelah mengetuk" 

Awal Ramadan selalu terasa seperti undangan pulang. Seolah ada pintu rahmat yang dibuka lebih lebar, cahaya yang diturunkan lebih lembut, dan panggilan yang terdengar lebih dekat ke dalam hati. Kita diingatkan kembali. Tuhan tak pernah lelah membuka pintu, hanya manusialah yang kadang lelah mengetuk.

Ramadan datang bukan sekadar membawa kewajiban puasa, tetapi membawa kesempatan menata arah. Ia adalah ruang untuk menyadari bahwa perjalanan hidup ini bukan sekadar berlari, melainkan pulang. Pulang kepada kesederhanaan, kepada kejujuran hati, kepada Tuhan yang sejak awal tak pernah jauh.

Di bulan ini, lapar dan dahaga menjadi bahasa ruhani. Ia menenangkan ego, meredam kesombongan, meluruhkan rasa memiliki yang berlebihan. Saat tubuh menahan, jiwa justru belajar lapang. Saat dunia sedikit dijauhkan, Tuhan terasa sedikit lebih dekat.

Barangkali karena itu doa terasa lebih mudah mengalir di Ramadan. Hati yang biasanya keras menjadi lebih lunak. Tangis lebih mudah jatuh. Maaf lebih ringan diberikan. Seolah kita diingatkan bahwa mengetuk pintu-Nya tidak harus sempurna, cukup tulus.

Dan Ramadan pun sesungguhnya bukan tujuan akhir. Ia hanya musim pulang — latihan agar setelahnya kita tetap ingat arah. Agar di bulan-bulan biasa pun kita tidak kembali lupa jalan.

Jika awal Ramadan ini hati terasa terpanggil, jangan ditunda. Ketuklah pintu itu lagi. Pelan saja, dengan niat yang jernih. Sebab Tuhan tidak menunggu kesempurnaan kita, Dia hanya menunggu kesediaan kita kembali.

Dan siapa yang mau pulang, selalu akan menemukan: pintu itu sejak awal memang tak pernah tertutup. 

1 Ramadhan 1447 H



Share
Banner Odhua
Nyonya Secret
Ciputral Hotel JKT

Pilihan Redaksi

Berita Terpopuler

Berita Terbaru