Sri Astari Rasjid (1953 – 2022) bukan sekadar nama dalam sejarah seni rupa kontemporer Indonesia. Ia adalah seorang penjelajah. Menembus batas antara yang nyata dan yang surealis. Mengangkat suara perempuan menjadi karya yang diakui di panggung internasional.
Seluruh perjalanan seninya bertumpu pada satu keyakinan. Bahwa dalam diri setiap perempuan, bersemayam seorang dewi. Ia menyebutnya ‘sakti’, energi feminin. Dalam tradisi Hindu dikenal sebagai ‘Shakti’, kekuatan kosmis primordial yang menggerakkan seluruh alam semesta.
Bagi Astari, sakti bukan konsep abstrak. Ia adalah denyut yang menghidupkan setiap karyanya.

Dari Pemberontakan ke Kehalusan
Di awal kariеrnya, Astari berkarya dengan bahasa abstrak ala Barat. Garis-garis tegas, warna-warna mencolok, seolah mewakili jiwa pemberontakan terhadap hal-hal yang bersifat konvensional. Lambat laun, bahasanya bertransformasi. Lebih halus, lebih dalam, namun tetap tajam.
Salah satu penanda perubahan itu adalah ‘Temple of Efflorescence (1996)’, sebuah potret diri yang sarat makna. Mengenakan busana adat Jawa, Astari berdiri di hadapan Candi Borobudur yang ia bayangkan sebagai rahim.
Namun, ada yang berbeda. Tatapannya lurus ke depan. Bukan menunduk seperti lazimnya. Tangannya terbuka, bukan terkatup. Sebuah gestur kecil yang bicara banyak tentang arah yang hendak ia tempuh.
“Astari adalah satu dari segelintir seniman yang sejak awal menjadikan budaya sebagai titik tolaknya. Bukan untuk meniru, melainkan dipahami dalam konteks kekinian,” demikian catatan editorial untuk pameran Indonesian Women Artist (IWA) #4.

Kebaya sebagai Bahasa Seni
Kebaya menjadi medium paling ikonik dalam perjalanan Astari. Bukan sekadar busana, melainkan barometer. Pencatat suasana zaman dan kondisi bangsa.
Pada 1998, di tengah gejolak politik dan tragedi kekerasan massal terhadap perempuan, Astari merasa kanvas tak lagi cukup. Ia menciptakan ‘Prettified Cage’, karya patung pertamanya.
Dari luar, kebaya itu tampak cantik dan anggun. Namun di dalamnya, tersembunyi pakaian dalam dari besi dingin yang keras. Metafora yang tak butuh banyak penjelasan.
Empat tahun kemudian, ‘Abandoning Virility (2002)’ hadir dengan kompleksitas yang lebih dalam. Fragmen tubuh, bunga-bunga miniatur, perlengkapan rias perempuan. Semua menjadi ornamen di atas kebaya yang berdiri di depan layar baja nirkarat berukir aksara Jawa.
Di bagian atas, bentuk vagina berwarna ungu memanjang hingga ke bawah. Sebuah perpaduan yang mengguncang antara kesakitan dan keindahan.
Ketika kegelisahan batin menyerang di tahun 2011, Astari berpaling pada amulet atau jimat. Bukan satu, melainkan lima kebaya dari aluminium abu-abu yang ia namai ‘Armors of the Soul’.
Dan di tahun 2015, menyambut era baru kepemimpinan nasional, ia menciptakan patung kebaya setinggi 3,5 meter bertajuk ‘Armor for Change’. Sederhana, tanpa hiasan berlebihan. Hanya seekor kupu-kupu besar yang hinggap sebagai metafora perubahan.
Saksi Zaman, Penjaga Ingatan
Karya-karya Astari adalah catatan hidup. Ia merespons dunia di sekelilingnya —krisis, bencana, pandemi— dengan kepekaan yang hanya dimiliki seorang seniman sejati.
Saat COVID-19 melanda, ia menciptakan karya epik yang menyerupai ritual ruwatan Jawa. Sebuah upacara penyembuhan bumi. Dalam ‘Pearls of Heaven’, sembilan patung golek kayu setinggi dua meter berdiri berdampingan. Masing-masing merepresentasikan perempuan-perempuan luar biasa dari berbagai latar agama, budaya, dan geografi.
Astari memanggil energi mereka sebagai doa. Agar dunia yang sedang kacau dapat kembali ke titik keseimbangannya.
Instalasi ‘Eling (Waspada)’ berupa rangkaian tasbih raksasa menjadi renungan yang tak kalah dalam. Setiap biji tasbih menanggung pesan dalam bahasa Jawa: peringatan tentang ketidakjujuran, korupsi, kebohongan, dan hal-hal yang menggerus kemanusiaan.
Dan ada ‘Home’. Instalasi sangkar besar yang bermula sebagai tas Kelly dengan seorang perempuan sendirian di dalamnya. Ia berevolusi. Dari kritik konsumerisme menjadi simbol domestifikasi perempuan, lalu menjadi garba (rahim), hingga akhirnya di masa pandemi menjadi representasi seluruh umat manusia yang terkurung di dalam rumah masing-masing.
Astari tak membiarkan kisah itu berakhir di sana. Seekor burung phoenix ia tempatkan di puncak kandang itu. Simbol kebangkitan, harapan, dan kelahiran kembali.
Warisan yang Hidup
Sri Astari Rasjid telah pergi. Namun karya-karyanya terus bernapas, berbicara, relevan di setiap perubahan zaman. Ia membuktikan bahwa seni bukan hanya cermin realitas. Ia adalah kekuatan yang menggerakkannya. Seperti sakti yang selalu ia percaya ada dalam diri setiap perempuan.
Sepilihan karya Sri Astari Rasjid dapat dinikmati dalam pameran temporer “Indonesian Women Artists #4: ON THE MAP — Towards New Futures” di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, hingga 30 Juni 2026.***