jeong-ok-jeon-membaca-offerings-melintasi-seni-dan-kehidupan-sehari-hari
Karya yang dihadirkan di sela-sela penyelenggaraan ArtMoments Jakarta 2026 | Dok. ArtMoments/Prefinite Communications
ART & DESIGN
Jeong Ok Jeon: Membaca "Offerings" Melintasi Seni dan Kehidupan Sehari-hari
By Devy Lubis
Wed, 17 Jun 2026

ArtMoments Jakarta 2026 bukan sekadar bursa seni konvensional. Di bawah visi kuratorial Jeong Ok Jeon, ajang ini menghadirkan pendekatan yang lebih komprehensif dan partisipatif. Mengubah seni menjadi dialog hidup antara seniman, galeri, kolektor, dan audiens.

Melalui tema ‘Offerings’, pengalaman yang dihadirkan tidak hanya berpusat pada observasi, tetapi juga pada pertukaran, koneksi, dan resonansi emosional. Art fair mengundang pengunjung untuk memasuki ruang di mana setiap karya seni membawa narasi, perspektif, dan makna yang melampaui kanvas.

Offering sebagai Filosofi Seni

Dalam pembukaan, Artistic Director ArtMoments Jakarta 2026 Jeong Ok Jeon membagikan pemahaman mendalam tentang konsep kuratorial yang mendasari pameran tahun ini. “’Offering’ bagi saya bukan sekadar tentang persembahan secara fisik," ujarnya.

‘Offering’, lanjutnya, bisa dimaknai sebagai upaya memberikan perhatian. "Ketika kita memberikan perhatian kepada seseorang, ‘offering’ adalah kepedulian. Ketika kita memberikan perhatian pada materi atau objek, ia adalah rasa hormat."

"Ketika kita memberikan perhatian pada sebuah tempat, ‘offering’ adalah tanggung jawab. Dan ketika kita memberikan perhatian pada hubungan, ‘offering’ adalah kepercayaan.”

Pemahaman ini mencerminkan kerumitan tema yang tampak sederhana namun mendalam. “’Offering’ bisa menghubungkan kita kembali dengan orang lain, juga leluhur, yang sakral, dan bumi kita," jelas Jeong.

Lebih jauh, ia menunjukkan bahwa dalam tradisi Nusa Naga, ‘offering’ tidak harus selalu sesuatu yang jauh atau monumental. Pemberian atau persembahan bisa berupa hal-hal kecil, sederhana, tenang, dan kadang tak terlihat, tetapi sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

“Dan saya pikir tindakan ‘offering’ itu sangat terhubung dengan seni. Karena ketika seni dibagikan dengan publik, ada banyak ‘offering’ yang bisa kita terima dari seni."

Ekspresi dalam Berbagai Medium

Filosofi ini menjadi fondasi dari pameran kuratorial utama ArtMoments Jakarta 2026, bertajuk "Intimacy of Offerings, Matter, Memory, and Connection," yang mempersembahkan 23 seniman dari Indonesia dan mancanegara. 

Setiap seniman merespons gagasan seputar ‘offering’ dengan cara yang berbeda-beda, melalui berbagai medium. Mulai dari lukisan, gambar, grafis, instalasi, hingga performa dan seni partisipatif.

Beberapa karya berakar pada spiritualitas dan ritual, sementara yang lain berbicara tentang ekologi atau bumi. Ada pula karya yang mengeksplorasi tenaga kerja, keluarga, memori, dan kehidupan sosial, memanfaatkan objek sehari-hari, artefak budaya, bahkan tubuh seniman itu sendiri. 

"Saya harap pengunjung bisa merasakan keintiman materi dan juga waktu dan komunitas," ujar Jeong.

Semangat yang sama tentang ‘offering’ juga terlihat dalam program seni pertunjukan dan workshop. Dengan sembilan program pertunjukan seni, ‘offering’ muncul sebagai tubuh, gerakan, dan aksi ritual. Kadang seniman menggunakan komputer, sehingga ‘offering’ juga berwujud melalui citra algoritmik, suara, dan interaksi langsung dengan karya seni.

Di program workshop, gagasan tentang ‘offering’ diperkenalkan melalui pengalaman langsung seni, di mana peserta belajar memberikan perhatian pada alam, materi, dan imajinasi mereka.

Lintas Generasi: Dari Pelopor hingga Kontemporer

Pameran menampilkan narasi yang membentang lintas generasi, dari para pelopor seni modern Indonesia. Sebut saja nama-nama besar Sudjana Kerton, S. Sudjojono, Mochtar Apin, Gregorius Sidharta, Made Wianta, dan Jeihan Sukmantoro, hingga suara-suara kontemporer baru seperti Demi Padua dan Arifin Neif.

Pengalaman pengunjung semakin diperkaya melalui beragam medium artistik. Mulai dari karya-karya ekspresif yang dipresentasikan oleh International Watercolor Society hingga fotografi yang menggugah karya Ted Van der Hulst.

Sorotan lainnya mencakup Bösendorfer Tree of Life Grand Piano, terinspirasi dari karya ikonis Tree of Life ciptaan Gustav Klimt, serta pratinjau kolaborasi mendatang dengan Jakarta Fashion Week melalui instalasi Fashion Film imersif yang dikembangkan bersama MOTIONBEAST, Aurawave, dan Chroma Project.

TERKAITSeni, Dialog, dan Pertukaran Budaya di ArtMoments Jakarta 2026

Aksesibilitas dan Keterlibatan Publik

Dengan penekanan yang kuat pada aksesibilitas dan keterlibatan publik, ArtMoments Jakarta 2026 mengundang kolektor berpengalaman maupun audiens baru untuk menjelajahi seni modern dan kontemporer dengan lebih terbuka dan percaya diri.

Edisi tahun ini menghadirkan program yang berlapis dan terkurasi dengan baik, memadukan warisan artistik dengan perspektif baru. Beragam program interaktif termasuk di antaranya MobArt's Kids Section, peluncuran Carrot Card Season 2, ARTFace, dan Young Collectors Program.

Semua menghadirkan cara yang lebih mudah diakses dan menarik bagi audiens muda serta kolektor pemula untuk terhubung dengan dunia seni secara bermakna.

Offering dalam Konteks Krisis Global

Menutup statementnya pada pembukaan, Jeong menekankan urgensi pesan ini dalam konteks global saat ini. "Hari ini kita hidup di dunia yang sangat tidak pasti dan sangat kompleks. Kita menghadapi banyak krisis, dan dalam momen kritis seperti ini, saya pikir ‘offering’ adalah hal yang sangat, sangat penting."

Dengan menghadirkan lebih dari 70 peserta pameran dari Indonesia, Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Korea Selatan, ArtMoments Jakarta menciptakan platform lintas budaya yang dinamis, menempatkan seni Asia Tenggara dalam percakapan global yang lebih luas. 

Melalui pameran ini, pengunjung diundang untuk memberikan perhatian pada setiap karya seni sedekat mungkin, menikmati momen percakapan, dan bila memungkinkan, berpartisipasi dalam berbagai kesempatan.***


Share
Penta
Nyonya Secret

Pilihan Redaksi

Berita Terpopuler

Berita Terbaru