peran-perupa-perempuan-dalam-dialog-kreatif-senapas-zaman
Ilustrasi pameran perupa perempuan asal Bali Citra Sasmita berjudul ‘Tales of Nowhere’ di Museum MACAN, Jakarta, 2020 - 2021. | DOC. MUSEUM MACAN
ART & DESIGN
Peran Perupa Perempuan dalam Dialog Kreatif Senapas Zaman
Devy Lubis
Wed, 11 Feb 2026

Sejak didirikan pada 2005, Max Mara Art Prize for Women lahir dari keyakinan bahwa perupa perempuan membutuhkan lebih dari sekadar pengakuan. Mereka membutuhkan ruang untuk tumbuh. 

Bagi Luigi Maramotti, President Max Mara Fashion Group, gagasan ini sejak awal merupakan sebuah langkah visioner. “Penghargaan ini lahir dari nilai utama kami: komitmen mendalam terhadap pemberdayaan perempuan,” ujarnya. 

Pada masanya, menciptakan sebuah art prize yang memungkinkan seniman mewujudkan potensi mereka secara penuh, baik secara kreatif, personal, maupun kultural, adalah sebuah terobosan. Kini, setelah mencatat capaian signifikan di Inggris, Maramotti optimistis membawa inisiatif ini ke panggung global.

“Menjadikannya batu loncatan yang semakin efektif dan bermakna bagi perkembangan karier seniman dari beragam latar budaya di seluruh dunia,” terangnya.


(Ki-Ka) Cecilia Alemani, Sara Piccinini, dan Venus Lau. DOC. MUSEUM MACAN

Langkah ini disambut antusias oleh Collezione Maramotti yang selama ini dikenal sebagai ruang refleksi bagi praktik artistik kontemporer yang orisinal dan berani. Bagi Sara Piccinini, Direktur Collezione Maramotti, keputusan untuk membangun koneksi lintas negara menandai fase yang menggembirakan dalam perjalanan penghargaan ini. 

“Kami melihat langkah ini sebagai bagian penting dari evolusi Max Mara Art Prize for Women,” tuturnya. Selaras dengan misi institusinya, Piccinini menekankan peran residensi dan dukungan khusus di Italia sebagai cara konkret untuk berkontribusi pada pertumbuhan perupa-perupa baru berbakat di kancah global, sekaligus merawat dialog kreatif yang senapas dengan konteks masa kini.

Babak baru ini dikurasi oleh Cecilia Alemani, Direktur dan Kurator Utama High Line Art, New York, yang sejak lama memandang Max Mara Art Prize for Women sebagai model luar biasa dalam mendukung perupa perempuan. “Merupakan sebuah kehormatan besar bagi saya untuk mengkurasi fase baru penghargaan yang inspiratif ini,” kata Alemani. 

Dengan format global dan berpindah, Alemani melihat penghargaan ini berkembang menjadi sarana diplomasi budaya dan dialog internasional yang utuh. Kehadiran edisi kesepuluh di Indonesia, khususnya di Museum MACAN, menurutnya adalah pernyataan tegas bahwa “inovasi artistik tidak lagi dimonopoli oleh Barat.” 

Program residensi enam bulan di Italia pun dipandang sebagai ruang eksperimental penting. Tempat perupa pemenang dapat mengolah warisan tradisi ribuan tahun menjadi ekspresi kreatif yang segar dan relevan dengan zaman.

Bagi Museum MACAN, kolaborasi ini menjadi momen penting dalam memperluas percakapan seni di tingkat internasional. Venus Lau, Direktur Museum MACAN, menyebut kehadiran Max Mara Art Prize for Women di Indonesia sebagai sebuah kehormatan. 

“Sebagai platform terdepan yang menguatkan suara perempuan di kancah seni internasional, penghargaan ini memainkan peran penting dalam membentuk wacana seni rupa kontemporer,” jelasnya. 

Lebih dari itu, ia menekankan dampak jangka panjang program residensi di Italia yang memungkinkan pendalaman riset, perluasan jejaring, serta pengembangan metode kerja yang belum tentu tersedia secara lokal. “Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh seniman terpilih, tetapi juga oleh ekosistem seni Indonesia secara lebih luas,” tambahnya.

Melalui Max Mara Art Prize for Women, percakapan tentang representasi, kesempatan, dan perspektif terus diperbarui. Dengan menempatkan praktik perupa perempuan Indonesia dalam dialog global yang lebih setara, penghargaan ini tidak hanya merayakan pencapaian individu, tetapi juga menghadirkan optimisme baru bagi masa depan ekosistem seni kontemporer—lebih inklusif, beragam, dan saling menguatkan.***

Share
Banner Odhua
Nyonya Secret
Ciputral Hotel JKT

Pilihan Redaksi

Berita Terpopuler

Berita Terbaru