Setidaknya tiga keputusan kontroversial mencuat pada laga babak 16 besar Piala Dunia 2026 ketika Mesir kalah dramatis lawan juara bertahan Argentina 2-3 di Atlanta Stadium, tengah hari waktu setempat atau Selasa (7/7) malam WIB.
The Pharaohs unggul lebih dulu 2-0 hingga menit ke-67, sebelum Albiceleste membalikkan keadaan dengan tiga gol balasan dalam 15 menit terakhir. Masalahnya, kemenangan yang mengantar Argentina ke perempat final itu diwarnai kericuhan terkait keputusan wasit Francois Letexier.
Argentina mendapatkan hadiah penalti “meragukan” ketika Nicolas Tagliafico terjatuh di dalam kotak terlarang usai kontak kaki dengan Haissem Hassan di menit ke-21. Wasit langsung menunjuk titik putih—tidak ragu dan tidak mengecek ulang melalui VAR.
Kapten Lionel Messi maju sebagai eksekutor. Namun, tendangannya ditepis kiper Mesir Mostafa Shobeir yang tampil cemerlang dengan melakukan setidaknya empat penyelamatan mustahil.
Kontroversi kedua terjadi saat Mesir unggul 1-0. Di menit ke-58, gelandang Mesir Mostafa Ziko mencetak gol indah dalam sebuah serangan cepat. Wasit Letexier menampung protes pemain Argentina, yang mengklaim adanya pelanggaran sebelum serangan itu berbuah gol.
Setelah melihat VAR, wasit menganulir gol Ziko.
Ziko kemudian mencetak gol bersih untuk Mesir di menit ke-67. Namun, Argentina yang pantang menyerah berhasil menyamakan kedudukan lewat gol Cristian Romero di menit ke-79 dan Lionel Messi di menit ke-83.
Kontroversi ketiga terjadi kapten Mesir Mohamed Salah terjatuh setelah berduel dengan Julián Álvarez di kotak penalti pada menit ke-93. Wasit Letexier tidak memberikan penalti—tanpa mengecek VAR—dan membiarkan pertandingan berlanjut.
Dalam serangan mematikan usai insiden itu, Argentina mencetak gol penentuan melalui sundulan Enzo Fernandez. Para pemain The Pharaohs terkulai, tak mampu bangkit lagi.
Jose Mourinho, yang resmi melatih Real Madrid mulai 13 Juli nanti, menyebut keputusan kontroversial wasit yang merugikan Mesir sebagai “perampokan di siang bolong”.
“Ketika Anda melawan Argentina, keunggulan 2-0 sama sekali belum cukup. Karena Anda tidak hanya berusaha mengalahkan 11 orang di lapangan. Anda juga harus mengalahkan peluit (wasit). Anda harus mengalahkan ruang VAR. Anda harus mengalahkan keseluruhan skenario di turnamen,” katanya seusai laga itu.
“Mesir mencetak gol luar biasa (Ziko), lalu VAR dirujuk untuk mencari-cari alasan menganulirnya. Argentina melakukan pelanggaran terhadap Salah di kotak penalti—yang layak mendapat hadiah penalti untuk memenangkan Mesir—tapi permainan dilanjutkan hingga gol Enzo terjadi.”
Mourinho menambahkan, ini bukan lagi sepak bola, melainkan skenario sebuah film. Hasil akhirnya sudah diputuskan. Bahkan sebelum para pemain memasuki lapangan pertandingan.
Selain Mourinho, kritik pedas atas kepemimpinan wasit yang terkesan memihak Argentina juga dilontarkan komentator televisi Alan Shearer, Ian Wright, media Spanyol Marca, pelatih Mesir Hossam Hassan, dan pemain Mostafa Zico.
Meskipun demikian, kemenangan tetap kemenangan di mata Argentina. Messi meneteskan air mata seusai laga. Ia barangkali merasa lega luar biasa setelah gagal mengeksekusi penalti, tapi kemudian berhasil membawa tim menang.
Messi kini memimpin daftar top scorer sementara Piala Dunia 2026 dengan koleksi delapan gol, unggul satu gol dibanding Kylian Mbappe (Prancis) dan Erling Haaland (Norwegia).
Termasuk gol ke gawang Mesir, Messi menorehkan sejarah sebagai pemain pertama yang mampu menjebol gawang lawan dalam enam pertandingan fase knockout secara berturut-turut di ajang Piala Dunia. Catatan ini dihitung sejak babak 16 besar lawan Australia di Qatar 2022.
Selama enam kali tampil di turnamen ini, Messi juga mengokohkan posisinya sebagai penyerang tersubur Piala Dunia sepanjang masa dengan 21 gol.
Argentina akan berjumpa Swiss pada babak perempat final di Kansas City Stadium, Minggu (12/7) pagi WIB. Swiss menyingkirkan Kolombia melalui adu penalti setelah imbang 0-0 hingga extra time.