Namanya surah “Al-Ikhlas”. Tetapi tak satu pun ayatnya menyebut kata itu.
Di situlah justru rahasia paling dalam dari keikhlasan.
Keikhlasan, agaknya, memang tidak suka menyebut dirinya sendiri. Ia bekerja dalam sunyi, tumbuh di ruang batin, dan berbuah tanpa papan nama. Seperti akar yang tak pernah terlihat, tetapi justru darinyalah pohon iman berdiri tegak.
Surah ini dinamai Al-Ikhlas bukan karena kata itu tertulis secara harfiah, melainkan karena seluruh kandungannya memurnikan keyakinan hanya kepada Allah. Dia Esa, tempat bergantung segala sesuatu, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.
Nama “Al-Ikhlas” diberikan oleh para ulama tafsir karena tema besarnya adalah kemurnian tauhid. Membersihkan iman dari segala bentuk syirik, pamrih, dan sekutu-sekutu batin.
Apakah ikhlas memang tak boleh dipamerkan?
Secara spiritual, iya. Karena sesuatu yang diumumkan demi pengakuan sering kali kehilangan kemurniannya. Ikhlas adalah kerja hati yang tidak membutuhkan saksi selain Tuhan. Begitu ia sibuk mencari tepuk tangan manusia, ia berubah menjadi transaksi sosial, bukan lagi persembahan ruhani.
Namun ikhlas bukan berarti semua kebaikan harus selalu disembunyikan. Yang tersembunyi bukan tindakannya, melainkan motifnya. Seseorang boleh berbagi, memimpin, menulis, bahkan tampil di ruang publik, selama pusat orientasinya bukan pujian, melainkan kebenaran dan kemaslahatan.
Hakikat ini selaras dengan pesan Surah Al-Ikhlas. Keesaan Tuhan menuntut keesaan tujuan. Jika Allah itu satu, maka arah hati pun harus satu. Tidak bercabang ke pujian, jabatan, pencitraan, atau gengsi.
Maka, apa itu ikhlas? Ia adalah kejernihan niat. Keadaan ketika seseorang melakukan yang benar meski tak dilihat siapapun. Ia tetap bekerja ketika tak dipuji. Ia tetap menolong ketika namanya tak ditulis. Ia tetap jujur meski tidak ada kamera.
Ikhlas adalah kesediaan untuk tetap menjadi cahaya, meski tak pernah disebut sebagai sumber terang.
Ikhlas adalah integritas antara motif internal dan tindakan eksternal. Tidak ada jurang antara apa yang tampak dan apa yang diniatkan. Ia melahirkan ketenangan, karena manusia tak lagi hidup untuk persepsi orang lain, melainkan untuk kesesuaian dengan suara nurani dan kehendak Ilahi.
Lalu bagaimana agar benar-benar ikhlas?
Pertama, luruskan pusat niat sebelum memulai apa pun. Tanyakan pada diri sendiri: kalau tidak ada yang tahu, apakah saya tetap akan melakukannya? Jika jawabannya ya, di situlah benih ikhlas tumbuh.
Kedua, biasakan berdamai dengan anonimitas. Tidak semua kebaikan harus diketahui. Ada amal yang justru tumbuh subur ketika tidak diberi nama.
Ketiga, jangan terlalu sering menoleh ke penilaian manusia. Pujian adalah ujian yang sering lebih berat daripada celaan. Banyak amal gugur bukan karena salah, tetapi karena terlalu menikmati pengakuan.
Keempat, perdalam tauhid. Semakin kuat kesadaran bahwa hanya Allah tujuan akhir, semakin kecil kebutuhan kita terhadap validasi dunia. Itulah sebabnya Surah Al-Ikhlas dinamai demikian. Karena keikhlasan sejati lahir dari tauhid yang murni.
Pada akhirnya, Surah Al-Ikhlas mengajari kita satu paradoks yang indah. Bahwa keikhlasan paling sejati adalah yang tidak sibuk menyebut dirinya ikhlas.
Ia seperti embun yang tak pernah berpidato tentang kesejukan, tetapi daun-daun merasakan basahnya. Ia seperti matahari yang tak pernah mengumumkan dirinya terang, tetapi bumi hidup karenanya.
Mungkin memang demikian jalan ruhani yang paling sunyi. Bahwa yang paling murni justru yang paling sedikit bicara tentang kemurniannya.
Dan di zaman ketika hampir segala kebaikan ingin difoto, diumumkan, dan dipertontonkan. Surah Al-Ikhlas datang sebagai pengingat lembut namun tegas. Bahwa yang paling bernilai di langit sering kali adalah yang paling tak terdengar di bumi.
Muliadi Saleh: “Menulis Makna, commanding Peradaban”