JF3 Fashion Festival kembali hadir dengan semangat baru dan skala yang lebih ambisius. Bukan sekadar perayaan mode, JF3 2026 yang berlangsung di Kelapa Gading, Jakarta, 22 - 29 Juli mendatang, mencetuskan gagasan kolektif yang mendefinisikan ulang arah industri fashion Indonesia.
Mengangkat tema ‘Recrafted: Shaping the Future’, JF3 berakar dari satu keyakinan mendasar. Bahwa konsep yang indah dan artistik tidak ada artinya tanpa eksekusi yang nyata.
Karena itulah, inisiator sekaligus advisor JF3 Thresia Mareta menekankan, event berdurasi 7 hari tersebut dirancang dengan format yang melampaui pekan mode konvensional.
“Tahun ini JF3 hadir sebagai ekosistem hidup. Sebuah ruang yang mempertemukan desainer, stakeholder, pasar, dan komunitas dalam satu jaringan yang terhubung dan saling menopang,” ungkapnya di sela-sela media gathering JF3 2026 di Jakarta, 19 Mei lalu.
Panggung fashion show siap menampilkan deretan desainer Indonesia dengan koleksi-koleksi terbaik mereka. Karya-karya itu telah ditempa melalui berbagai program pendampingan intensif. Pada saat bersamaan, pintu kolaborasi lintas batas terbuka lebar.
Kekuatan narasi dan konsistensi
Di balik kemegahan panggung, ada percakapan yang lebih dalam tentang struktur industri itu sendiri. Thresia pun bicara tentang apa yang sesungguhnya dibutuhkan oleh ekosistem fashion Indonesia untuk tumbuh secara berkelanjutan.
Ia tidak membantah pentingnya value (nilai) dan identitas brand. Tapi tidak cukup sampai di sini saja. Menurutnya, karya yang kuat (yang lahir dari tangan-tangan terampil) tetap membutuhkan cerita agar bisa dipahami, dipercaya, dan dikembangkan, Walaupun lagi-lagi ia menegaskan, perjalanan brand tak berhenti hanya pada narasi.
“Kalau cerita cuma sekadar cerita, itu tidak akan menjadi bagian dari identitas,” tutur sosok yang juga co-founder PINTU Incubator, program pendampingan yang membantu desainer bertemu mentor berpengalaman, jaringan luas, dan kesempatan tampil di panggung fashion internasional.
Thresia menjelaskan, nilai yang sejatinya diusung oleh label ataupun desainer akan tecermin dalam setiap titik eksekusi baik saat memilih bahan maupun menyeleksi kain, dan proses-proses berikutnya. Jadi, menurutnya, value tidak perlu diceritakan secara berlebihan karena (secara kualitas) produk akan ‘berbicara’ dengan sendirinya.
“Narasi tetap perlu ada, tapi kalau identitasnya sudah benar-benar dipegang, ia akan terasa sendiri.”
Namun, ekosistem yang sehat dibangun tidak hanya dari nilai dan cerita. Elemen lain yang tak kalah krusial adalah pengembangan kapasitas dan kemauan untuk tekun serta konsisten.
Di sinilah kemudian syarat minimal 20 looks (dari sebelumnya hanya 6 looks) dalam JF3 Fashion Show menemukan maknanya. Bukan sekadar aturan teknis, melainkan mekanisme yang dirancang untuk mendorong brand membangun fondasi lebih kokoh.
Brand yang hadir secara konsisten dari tahun ke tahun pun akan teruji secara karakter dan positioning. Sebab perkembangan yang berlangsung secara alami, akan kontras dengan brand yang hanya memproduksi koleksi dalam skala terbatas dan sporadis.
Thresia juga menyoroti tantangan produksi ready-to-wear sebagai tolok ukur kematangan sebuah brand. Berbeda dengan produksi untuk bazar atau pesanan terbatas, koleksi ready-to-wear menuntut koleksi yang lebih lengkap, identitas brand yang jelas, serta kemampuan menjaga konsistensi.
“Faktor-faktor inilah yang pada akhirnya akan menjadi pembeda dalam pertumbuhan jangka panjang,” tegasnya.
Bukan sekadar “karya seni”
Agaknya, pesan terpenting yang disampaikan Thresia menyentuh soal mindset para pelaku industri fashion Indonesia.
"Banyak brand global yang mampu bertahan puluhan tahun karena memperlakukan brand sebagai bisnis, bukan semata karya seni. Dengan pendekatan tersebut, posisi creative director dapat berganti tanpa menghentikan keberlangsungan brand."
Sebaliknya, ketika sebuah brand terlalu melekat pada nama pribadi desainer dan diperlakukan hanya sebagai ekspresi kreatif, keberlanjutannya dikhawatirkan menjadi jauh lebih rapuh. Bahkan, yang kerap terjadi, pergantian figur kunci bisa berarti akhir dari brand itu sendiri.
Tentu saja, pernyataan ini bukan seruan untuk mengorbankan kreativitas. Sebaliknya, kreativitas yang berkelanjutan hanya bisa hidup di atas fondasi bisnis yang kuat.
"Brand memiliki peluang untuk tumbuh lebih panjang ketika dibangun sebagai bisnis yang kuat dengan produk yang relevan dan berkualitas."***