Pertunjukan ‘Musikal Absurd: Hidup Segan But I’m Not Done’ di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, 2 November lalu, memikat para pecinta seni. Musikal yang diproduksi Jakarta Art House (JAH) dan didukung oleh Indonesia Kaya ini menghadirkan visual panggung yang terinspirasi ilustrasi karya Sherchle, participating artist Jakarta Doodle Fest 2025.
Musikal ini disutradarai oleh Aulion, kreator visual yang bereksperimen di ranah teater musikal. Naskah dan liriknya ditulis oleh Palka Kojansow. Koreografi para penari yang menari di antara kegelisahan dan kelucuan digarap oleh Andita Mardhiaputri. Kolaborasi ini melahirkan pertunjukan satir penuh gelak tawa yang diam-diam menyentuh hati siapa pun yang pernah merasa terjebak dalam rutinitas hidup, tapi tetap mencari alasan untuk terus melangkah.
Selama 60 menit, para penonton dihibur dengan 5 lagu. Antara lain ‘Sumpah Palapa’ dan ‘Pelan tapi Party’. Semua lagu diciptakan, diaransemen, diproduksi, sekaligus dimainkan oleh Ammir Gita selaku music composer— kecuali ‘Ragam Ulahnya, Ragam Lezatnya’ yang diciptakan dan diaransemen oleh Achi Hardjakusumah. Maruf Andi hadir sebagai vocal director.
Para pemain yang tampil dalam pementasan ini merupakan pelaku seni muda yang sudah akrab di pentas teater musikal. Sebut saja Made Aurellia, Uyo, Pila, Mike Frans, Arsy Fadillah, Nadhira Nasution, Medina Anzani, Devina, Ghatfaan, dan Janitra Diva.
Ekspresi Seni Talenta Muda di Panggung & Balik Layar
Pementasan ini adalah rangkaian dari kelas Musical Roadshow 2.0 yang berlangsung 15-16 Oktober 2025 di Auditorium Galeri Indonesia Kaya. Dalam kelas tersebut, para mahasiswa diajak untuk hadir, bertemu, berdiskusi, hingga mendapat pembelajaran dan pengalaman mengenai seni pertunjukan.
Tidak hanya itu, mahasiswa yang hadir terjun langsung dan belajar merencanakan, membuat, serta menangani seluruh aspek dari seni pertunjukan melalui beragam kelas seperti sound engineering, directing, dan lighting. Bahkan, beberapa mahasiswa terpilih dilibatkan langsung dan menjadi pendukung di belakang layar pementasannya.
“Indonesia Kaya senantiasa berkomitmen untuk mendukung berbagai karya kreatif yang menginspirasi dan memperluas apresiasi terhadap seni dan budaya. Melalui kolaborasi bersama Jakarta Doodle Fest, kami ingin memberikan ruang dan akses yang lebih luas bagi generasi muda untuk belajar, berproses, dan berkarya, baik dalam bidang seni visual maupun seni pertunjukan,” ungkap Renitasari Adrian, Program Director Indonesia Kaya.
“Kami percaya bahwa bentuk kolaborasi seperti ini membuka ruang baru bagi pelaku seni muda untuk bereksperimen dan mengekspresikan diri sehingga semakin banyak talenta muda yang terdorong untuk mengenal, mencintai, dan berkontribusi pada perkembangan dunia seni di Indonesia,” lanjutnya.

Sekilas Musical Roadshow 2.0
Materi sound engineering dibawakan Christian Edo, sound engineer yang berkecimpung dalam berbagai produksi pertunjukan, termasuk ‘Musikal Petualangan Sherina’, ‘Sister Act’, hingga ‘Mamma Mia! The Musical Re-Run’. Kelas ini dirancang sebagai pengenalan bagaimana tata suara bekerja sebagai elemen pertunjukan live. Mahasiswa diajak memahami tentang tata suara yang bisa memandu emosi penonton, mempertegas perubahan suasana, memperkaya narasi, hingga membantu ritme pergerakan pemain di panggung.
Setelah memahami pentingnya tata suara, mahasiswa juga dipertemukan dengan directing class yang dipandu Pasha Prakasa, sutradara sekaligus koreografer yang pernah terlibat dalam musikal ‘Keluarga Cemara’, film ‘Petualangan Sherina 2’, serta aktif sebagai pengajar di Ruang Kreatif Intensif Musikal Budaya oleh Indonesia Kaya.
Kelas ini membahas peran sutradara sebagai ‘arsitek’ keputusan artistik, bagaimana menyatukan musik, akting, koreografi, serta visual menjadi narasi utuh di atas panggung.
Selain itu, pencahayaan dalam musikal bukan sekadar ‘terang dan gelap’, melainkan bahasa visual yang menegaskan mood, memperhalus transisi adegan, dan memperkuat adegan tanpa mengucapkan satu kata pun. Maka itu, tahun ini diadakan juga lighting class bersama Alim Jeni, lighting designer yang menggarap produksi musikal besar seperti ‘Keluarga Cemara’, ‘Ken Dedes’, dan ‘GIE’ untuk memperkuat pemahaman mahasiswa tentang elemen visual, terutama cahaya, dalam musikal.
Ini menjadi tahun ketiga penyelenggaraan Jakarta Doodle Fest setelah M Bloc Space pada 2023 dan Taman Ismail Marzuki (TIM) pada 2024. Sementara JDF sendiri baru tahun lalu menggelar pertunjukan musikal untuk pertama kalinya; melalui pentas bertajuk ‘Moonboy & His Starguide: Inspired by Varsam Kurnia’s Illustrations’.