Suaraga dirancang untuk dinikmati dari banyak sisi. Bukan hanya soal musik yang menenangkan jiwa, tapi soal bagaimana kamu ingin hadir di festival ini.
Music Pass adalah pintu masuk ke panggung utama. Deretan musisi seperti MALIQ & D'Essentials, Sore, Nadhif Basalamah, Silampukau, Fanny Soegi, Ali, Ucupop, hingga Man Osman & Traffic Jam dengan set keroncong spesial siap tampil selama dua hari.
Tiket harian tersedia mulai Rp 150 ribu, atau Rp 250 ribu untuk dua hari.
Ingin lebih? Festival Pass menggabungkan konser dan satu sesi wellness dalam satu tiket. Pengunjung bisa mengikuti yoga, mat pilates, hingga Senam Kesegaran Jasmani (SKJ) bersama praktisi seperti Anjasmara, Laila Munaf, dan Amanda Tasning.
Tersedia seharga Rp 250 ribu per hari atau Rp 450 ribu untuk dua hari.
Untuk pengalaman yang lebih dalam, Premium Raga Pass hadir seharga Rp 1 juta. Kolaborasi bersama Atsiri Jawa, program ini menghadirkan sesi eksklusif. Antara lain Beksan Laku Jawi & Laras Wening dan Racik Candra Raksi: perpaduan olah gerak, meditasi, refleksi diri, dan eksplorasi aroma yang terinspirasi dari filosofi keseimbangan hidup Jawa.
Festival ini pun tak dimulai begitu saja di hari H. Sebelum pintu utama dibuka, Suaraga menggelar serangkaian aktivitas pra-event bersama komunitas lokal. Mlaku Santai dan Pit-Pitan menjadi city cycling experience yang mengajak peserta menjelajahi Solo dengan cara yang santai dan aktif.
Ada juga sesi diskusi bersama Vincent Rompies dan Soleh Solihun, membahas kreativitas dan dinamika industri kreatif masa kini.
Di luar venue, nuansa festival bahkan sudah terasa di sepanjang Jalan Slamet Riyadi lewat instalasi artistik, environmental design, dan wayfinding di berbagai titik strategis kota.
Bagi para kolaborator, Suaraga bukan sekadar panggung. Ini adalah ruang yang bermakna.
"Kehadiran Suaraga patut diapresiasi sebagai upaya menghubungkan banyak elemen dalam satu pengalaman: musik, budaya, komunitas, hingga keseimbangan hidup," ujar Angga Puradiredja dari MALIQ & D'Essentials.
"Pendekatan seperti ini membuat budaya terasa lebih hidup dan lebih dekat,” lanjutnya.
Direktur Rumah Atsiri Indonesia Natasha Clairine Mitarga menambahkan, kolaborasi ini adalah cara untuk menerjemahkan kearifan lokal ke dalam pengalaman yang relevan.
"Kami ingin mengajak peserta memperlambat ritme, lebih terhubung dengan diri sendiri, serta merasakan kembali hubungan antara keseimbangan hidup, alam, dan warisan budaya Indonesia,” kata Natasha.
Senada, Amanda Tasning dari Houm menegaskan bahwa yoga di ruang terbuka membawa dimensi berbeda. "Di Suaraga, yoga menjadi ruang untuk terhubung dengan diri sendiri, lingkungan, dan komunitas.”
"Gerak adalah bahasa universal," cetus Laila Munaf dari SANA Studio. "Suaraga menghadirkan ruang di mana musik, kreativitas, dan komunitas dapat bertemu dalam satu pengalaman bersama.”
Suaraga percaya bahwa budaya bukan hanya warisan, tetapi fondasi keseimbangan hidup. Dan hal tersebut bukan sekadar tren, melainkan bagian dari masa depan sebuah kota. Ikuti perkembangan Suaraga di @suaragafest.