jalan-pulang-merawat-cerita-merawat-kebaya
sinema, kebaya, jalan pulang, Indonesia kaya, sheila dara aisha, bramsky, widyawati | Dok. Bakti Budaya Djarum Foundation
Movie & Music
Jalan Pulang: Merawat Cerita, Merawat Kebaya
By Devy Lubis
Thu, 23 Jul 2026

Setiap kebaya memiliki perjalanan yang berbeda. Ada yang diwariskan dari ibu kepada anak, dari nenek kepada cucu, atau menemani berbagai peristiwa penting dalam kehidupan seorang perempuan. Di balik setiap helainya, tersimpan kenangan yang terus hidup selama ada yang merawat dan meneruskan ceritanya.

Semangat inilah yang kembali diusung Bakti Budaya Djarum Foundation dalam peringatan Hari Kebaya Nasional tahun ini melalui film pendek ‘Jalan Pulang’. Bagi mereka, pelestarian kebaya bukan hanya soal menjaga selembar kain tradisional, tetapi juga merawat memori, nilai keluarga, dan identitas budaya yang diwariskan lintas generasi.

Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, Renitasari Adrian, menjelaskan bahwa selama tiga tahun terakhir pihaknya terus mengajak masyarakat melihat kebaya dari berbagai sudut pandang. Jika sebelumnya kebaya diposisikan sebagai ekspresi diri dan identitas budaya yang terus berkembang, kali ini fokusnya diarahkan pada cerita-cerita yang hidup di balik setiap kebaya.

Menurutnya, eksistensi kebaya sampai hari ini tak sekadar membawa jejak keluarga atau kenangan. Karena itu, merawat kebaya juga berarti menjaga memori yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

“Ia (kebaya) juga adalah bagian dari perjalanan hidup yang turut membentuk siapa diri kita hari ini,” tutur Renita.

Pesan tersebut diterjemahkan melalui kisah sederhana dalam ‘Jalan Pulang’. Film ini memperlihatkan bahwa warisan budaya tidak selalu hadir dalam ruang-ruang resmi, melainkan tumbuh di rumah, di lemari tempat kebaya disimpan, dan dalam percakapan hangat antara anggota keluarga.

Bagi sutradara Bramsky, kebaya adalah saksi perjalanan hidup. Di balik setiap lipatan kainnya, selalu ada rumah, ibu, keluarga, dan identitas yang sering kali baru disadari nilainya ketika seseorang berusaha menemukannya kembali.

Pendekatan ini sekaligus menghadirkan wajah baru pelestarian budaya. Alih-alih berbicara mengenai sejarah secara panjang lebar, 'Jalan Pulang’ mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, menemukan sendiri hubungan emosional mereka dengan kebaya.

Harapannya, kebaya tidak hanya dipandang sebagai busana tradisional yang dikenakan pada acara tertentu, tetapi sebagai warisan yang tetap hidup karena dipakai, dirawat, dan kisahnya terus diteruskan.

Di tengah perubahan zaman, kebaya menjadi pengingat bahwa perjalanan perempuan Indonesia tidak hanya ditulis melalui pencapaian hari ini, tetapi juga melalui nilai-nilai yang diwariskan oleh perempuan-perempuan sebelum mereka. Setiap kebaya membawa cerita. Dan selama cerita itu terus diceritakan, warisan tersebut akan selalu menemukan jalan pulang kepada generasi berikutnya.


“Dan setiap cerita layak untuk diteruskan,” kata Renita.

Ia pun berharap ‘Jalan Pulang’ menjadi pengingat bahwa warisan budaya tidak hanya hidup di museum atau buku sejarah, tapi hadir dalam keseharian kita. “Dalam cerita tentang keluarga, dan kebaya yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya,” pungkasnya.(*)

Share
Nyonya Secret

Pilihan Redaksi

Berita Terpopuler

Berita Terbaru