surat-dari-negeri-kincir-menyapa-januari
| Generated by Ai
SURAT DARI NEGERI KINCIR: MENYAPA JANUARI*
Usman Soekarno Arsal
Fri, 02 Jan 2026

SAHABATKU, surat ini saya tulis ketika gema letusan kembang api baru saja senyap dari langit Amsterdam.

​Anda tentu tahu, betapa riuhnya Oudejaarsavond —malam pergantian tahun—di negeri ini. Orang-orang Belanda yang sehari-harinya begitu hemat, teratur, dan kaku dalam balutan afspraak, tiba-tiba berubah menjadi boros dan meledak-ledak malam ini. Langit yang biasanya kelabu dan dingin menggigit, mendadak berwarna-warni. Seolah-olah, mereka ingin membalas dendam pada waktu yang selama setahun penuh telah menjajah mereka dengan disiplin yang ketat.

​Di balik jendela kamar sewaan saya yang menghadap ke kanal yang airnya nyaris membeku, ingatan saya justru melayang jauh, menyeberangi benua, mendarat kembali ke Makassar, ke sebuah warung kopi sederhana tempat kita terakhir kali berdiskusi tentang masa depan bangsa.

​Masih segar dalam ingatan saya, keluhan Anda tentang "waktu" di Indonesia. ​"Di kita," kata Anda waktu itu sambil mengaduk kopi susu yang mulai dingin, "Tahun baru itu sekadar ganti kalender di dinding. Mentalitasnya tetap mentalitas lama. Jam karet masih berlaku, birokrasi masih berbelit, dan kita tua tanpa menjadi dewasa."

​Saya tertawa getir mendengarnya saat itu. Namun, setelah bermukim di sini, di tengah masyarakat yang memuja waktu sebagai uang, saya menemukan paradoks lain. Di Eropa, tahun baru dirayakan untuk menandai kemenangan manusia bertahan hidup dalam sistem yang serba mekanis. Mereka merayakan fakta bahwa mereka masih "berfungsi".

​Sedangkan kita? Mungkin Anda benar soal ketidaktertiban itu. Tetapi saya merindukan satu hal yang absen di tengah pesta pora Amsterdam malam ini: kehangatan manusianya. 

​Di sini, ucapan  Gelukkig Nieuwjaar terdengar sopan, tapi seringkali terasa berjarak. Formalitas belaka. Tidak ada tepukan bahu yang akrab, tidak ada tawa lepas tanpa beban seperti yang biasa kita dengar di pelataran Benteng Ujung Pandang atau di sepanjang Pantai Losari saat lonceng jam dua belas berdentang.

BERBICARA soal Waktu dan sejarah, seperti yang sering kita debatkan, Amsterdam di awal tahun ini kembali mengajarkan saya sesuatu.

​Tadi sore, sebelum matahari musim dingin yang malas itu tenggelam, saya sempat berjalan kaki melewati bangunan-bangunan tua dari abad ke-17. Gedung-gedung itu masih gagah, terawat, dan difungsikan. Tahun berganti, abad berlalu, tapi mereka tetap menjaga identitas kotanya. Tahun baru bagi mereka bukan berarti membongkar yang lama dan menggantinya dengan beton-beton kaca yang asing. Mereka menghormati masa lalu sebagai fondasi masa depan.

​Bagaimana dengan kota kita tercinta di sana? Apakah pergantian tahun ini akan membawa kabar baik bagi sisa-sisa bangunan bersejarah yang tersisa? Atau jangan-jangan, tahun baru ini sekadar menjadi alasan bagi para pemodal untuk meruntuhkan lagi satu-dua saksi sejarah demi sebuah pusat pertokoan baru? Saya cemas, jangan sampai anak cucu kita nanti hanya mengenal sejarah kotanya lewat foto-foto usang, karena wujud aslinya telah digilas roda pembangunan yang tidak berkesadaran budaya.

​Anda, sebagai orang yang selalu gelisah memikirkan hal ini, tentu merasakan kepedihan yang sama.

DISINI, Januari datang dengan angin yang menusuk tulang. Saya membayangkan, di sana mungkin hujan sedang turun deras-derasnya, membasahi jalanan kota yang berlubang.

​Meskipun hidup di sini segalanya terjamin—transportasi lancar, kota bersih, dan aturan ditegakkan—ada kalanya hati kecil saya memberontak. Kemapanan ini membosankan. Kadang saya rindu pada "kekacauan" yang manusiawi di tanah air. Rindu pada spontanitas tetangga yang mengirimkan makanan tanpa afspraak, rindu pada suara azan yang bersahut-sahutan, bahkan rindu pada perdebatan kita yang tak kunjung usai itu.

​Tahun baru di rantau memang menawarkan tontonan kemajuan peradaban. Tetapi tahun baru di kampung halaman, menawarkan 'rasa' dan 'jiwa'.

​Semoga di tahun yang baru ini, Anda tetap sehat dan tidak lelah menuliskan kritik-kritik tajam demi kewarasan masyarakat kita. Sampaikan salam saya pada kawan-kawan seperjuangan. Kalau ada rezeki dan umur panjang, semoga kita bisa menikmati Coto Makassar bersama lagi, tanpa harus memikirkan kurs gulden yang mencekik ini.

​Selamat Tahun Baru, Sahabat.

Amsterdam, 1 Januari

*) surat imajiner


Share
Nyonya Secret

Pilihan Redaksi

Berita Terpopuler

Berita Terbaru