sayap-burung-besi-jejak-pergerakan-di-museum-macan
Karya berjudul Wings Baanan Series – Baby Wings (2021) dalam pameran Somewhere, Elsewhere, Nowhere. | Dokumentasi/Museum MACAN
Art & Culture
Sayap Burung Besi & Jejak Pergerakan di Museum MACAN
Devy Lubis
Mon, 29 May 2023
Pameran survei bertajuk Somewhere, Elsewhere, Nowhere digelar di Museum MACAN, Jakarta, 24 Juni–8 Oktober 2023. Ekshibisi ini menandai lebih dari 20 tahun praktik kolaboratif pasangan perupa kelahiran Filipina Isabel dan Alfredo Aquilizan. Instalasi berskala besar dan karya-karya seni lainnya jadi sorotan, termasuk sebuah karya baru yang dikomisikan oleh Museum MACAN.

Isabel dan Alfredo Aquilizan adalah suami istri. Mereka juga rekanan artistik. Keduanya telah memamerkan karya secara luas di sejumlah pameran besar dan bienial di seluruh dunia.

Mereka dikenal lewat perspektif unik. Kerap kali berkisar pada lingkungan rumah dan keluarga. Pasangan ini menggabungkan material-material yang mudah ditemukan sehari-hari ke dalam karya yang dibuat. Mereka menemukan cara di mana identitas dan sejarah terbentuk melalui perjalanan dan migrasi.

Keduanya mulai aktif berkarya di Filipina pada akhir 1990an dan 2000an, sebuah periode di mana minat terhadap seni rupa dan praktik kontemporer di Asia Tenggara tengah berkembang.



Isu penjajahan dan perbudakan. Somewhere, Elsewhere, Nowhere menampilkan karya berskala besar, ekspansif, dan interaktif, yang menggelitik rasa ingin tahu pengunjung. Karya mereka dihasilkan dari ragam material sederhana di sekitar kita seperti kardus, sandal jepit, sikat gigi, dan selimut. Benda-benda yang sarat akan aktivitas masyarakat—juga yang kerap digunakan ketika bepergian—menjadi simbol pergerakan manusia sekaligus perpindahan.




Bagi mereka, material-material tersebut merupakan medium sederhana yang dapat membangkitkan ide-ide mengenai identitas individu, sejarah, perjalanan, dan migrasi.

Banyak karya dalam pameran Somewhere, Elsewhere, Nowhere yang dibuat dengan tangan—baik melalui proses lokakarya atau dikerjakan dengan bantuan tangan para artisan. Sebagai contoh, pisau pada karya Belok Kiri Jalan Terus (2017–2018) dibuat oleh pandai besi di Yogyakarta dan Filipina; juga pada kain piña di karya See/Through (Series 1) (2019–2023).

Kain piña adalah kain yang ditenun dari serat daun nanas. Nanas sendiri diperkenalkan oleh bangsa Spanyol selama masa pendudukannya di Filipina dan kemudian ditanam di seluruh penjuru Asia Tenggara dan Asia Pasifik. Piña juga secara langsung berkaitan dengan penjajahan, pendirian sistem tuan tanah dan buruh yang menciptakan perbudakan di antara isu-isu agraria lainnya.

Karya ini mengilustrasikan komitmen mendalam sang perupa terhadap karya, sejarah, dan keilmuan yang dapat ditemukan di tangan para artisan. Merefleksikan sejarah dari penaklukan, kolonisasi, kerja paksa, serta perbudakan manusia.

Museum MACAN juga akan mengkomisi sebuah karya baru oleh Isabel dan Alfredo Aquilizan; sebuah sayap pesawat berskala nyata yang terbuat dari 92 sangkar burung yang disusun seperti puzzle.



Puzzle 92-sangkar burung. Isabel dan Alfredo Aquilizan senang dapat membagikan karya-karya dari 20 tahun praktik kolaboratif di Museum MACAN, Jakarta. “Kisah kami terinspirasi dari pengalaman bekerja di berbagai tempat, dengan beragam latar belakang yang berbeda dari seluruh dunia, termasuk Indonesia,” tuturnya.

Semua itu menjadi bagian dari sejarah perjalanan mereka, sumber inspirasi serta pengaruh penting dalam pengembangan praktik sebagai perupa. “Karena Somewhere, Elsewhere, Nowhere adalah tentang keterlibatan, kami sangat ingin melihat makna dari setiap karya berkembang dan bertambah melalui pengalaman pengunjung yang datang dan berinteraksi dengan karya yang dipamerkan,” imbuhnya.

Aaron Seeto, Direktur Museum MACAN, mengatakan, Indonesia secara khusus memiliki peranan yang penting bagi Isabel dan Alfredo Aquilizan. Mereka telah membangun relasi yang kuat dengan beragam perupa dan skena artistik di Yogyakarta selama bertahun-tahun.

“Kami sangat senang dapat mengkomisikan karya baru dari seri Belok Kiri Jalan Terus, yaitu sebuah sayap pesawat berukuran asli, yang terdiri dari 92 sangkar burung yang disusun layaknya sebuah puzzle. Ide dari karya ini muncul dari para seniman saat berkunjung ke Yogyakarta, dan kami sangat senang dapat mewujudkannya,” kata Aaron.

Pameran Somewhere, Elsewhere, Nowhere akan berlangsung dari 24 Juni hingga 8 Oktober 2023. Tiket tersedia di www.museummacan.org/tickets dan melalui mitra tiket museum: GoTix, Tiket.com, dan Traveloka.



Kisah Kotak Sepatu: tentang rumah dan identitas yang bergerak. Berbarengan dengan pameran ini, Isabel dan Alfredo Aquilizan menciptakan sebuah proyek untuk anak-anak dan keluarga di Ruang Seni Anak Museum MACAN. Berjudul Kisah Kotak Sepatu, area ini merespon ide mengenai rumah, migrasi, sejarah personal, dan bagaimana hubungan manusia terbentuk melalui pengalaman bersama.

Tidak hanya hadir melalui aktivitas di Museum, sesi lokakarya bersama dengan sekolah dan tutorial daring dan aktivitasnya menjadi perpanjangan dari proyek Kisah Kotak Sepatu ke sekolah-sekolah di seluruh penjuru negeri. Proyek Ruang Seni Anak didesain untuk melibatkan anak-anak dan keluarganya dalam ide dan konsep yang dihadirkan di dalam pameran dan menjadi bagian penting dari misi berkelanjutan Museum MACAN terhadap pendidikan seni.

Toko museum Shop at MACAN juga menghadirkan serangkaian produk eksklusif untuk pameran Somewhere, Elsewhere, Nowhere. Pengunjung dapat membeli merchandise secara langsung di museum atau secara daring melalui shop.museummacan.org dan Tokopedia.

Somewhere, Elsewhere, Nowhere mendapatkan dukungan dari Pemerintah Australia melalui pendanaan bidang seni dan badan penasihat dari Australia Council.





Share

Pilihan Redaksi

Berita Terpopuler

Berita Terbaru