perjalanan-rasa-dan-cahaya-bersama-olafur-eliasson
Olafur Eliasson Multiverses and futures (2017) | DOC: LIANDRO SIRINGORINGO | MUSEUM MACAN
ART & DESIGN
Perjalanan Rasa dan Cahaya bersama Olafur Eliasson
By Devy Lubis
Thu, 14 May 2026

Pameran seni biasanya mengajak kita, para pengunjung, untuk menikmati karya secara visual. Namun, ada yang justru mengajak kita berhenti sejenak; merasakan cahaya, bersentuhan dengan bulir-bulir embun tipis di antara kabut yang memendarkan pelangi, menyadari napas, lalu kembali terkoneksi dengan diri sendiri dan segala sesuatu yang berada di sekitar kita.

Pengalaman artistik ini dapat dirasakan dalam ‘Olafur Eliasson: Your Curious Journey’ yang berlangsung di Museum MACAN - Jakarta, 29 November - 12 April 2026. 

Sejak langkah pertama memasuki ruang pamer, kita tidak sekadar berhadapan dengan karya-karya yang menandai tiga dekade praktik berkesenian seniman Denmark - Islandia. Kita akan merasakan langsung pengalaman yang perlahan membangkitkan rasa ingin tahu sekaligus kepekaan seluruh indera.  

Alih-alih menyusun kronologi dalam sebuah retrospeksi yang kaku, pameran ini justru terasa seperti undangan personal. Sebuah perjalanan yang bergerak secara pelan; memberi ruang bagi pengunjung untuk hadir sepenuhnya baik secara fisik maupun emosional. 

Di sini, seni tidak berdiri sebagai karya yang selesai dikerjakan lalu dipajang, melainkan proses yang terus berlangsung bersama siapapun yang mengalaminya. “Dihidupkan” kembali melalui dialog dengan ruang, kota, dan kita, pengunjungnya.

Melalui sepilihan karya penting yang menandai evolusi eksplorasi Olafur, kita diajak menelusuri cara sang seniman memahami dunia. Edisi Jakarta menghadirkan sejumlah karya yang bersifat eksklusif, memperluas tafsir pameran sekaligus menawarkan sudut pandang baru yang kontekstual dan segar bagi audiens Indonesia. 

Selain ‘Beauty (1993)’ yang merangkum gerimis, serta ‘Moss Wall (1994) yang bertumbuh pada dinding museum, kita bisa bermain-main dengan gerak, cahaya, bayangan, dan warna dalam ‘Multiple Shadow House (2020)’. 


Perasaan berbeda akan muncul kala menyusuri koridor gelap yang berujung sebuah ruang benderang,‘Yellow Corridor (1997)’. Menariknya, terang cahaya monokrom kuning intens menghapus segala spektrum warna yang melekat pada tubuh kita.

Dalam ruang ini, kita (pengunjung) adalah lokusnya. 

Kehadiran yang Menyentuh Kesadaran

Dalam praktiknya, Olafur kerap menempatkan fenomena alam. Bukan sekadar sebagai objek pengamatan, melainkan entitas yang memiliki agensinya sendiri. 

Cahaya, air, kabut, hingga kekuatan tak kasat mata seperti magnetisme menjadi medium yang membentuk ruang imersif. Ruang tempat bayangan bergerak, bentuk berubah, dan ritme perlahan menyentuh kesadaran. 

Pengalaman visual berpadu dengan sensasi tubuh. Menciptakan pertemuan yang terasa intim sekaligus reflektif.

Di titik inilah peran pengunjung menjadi krusial. Karya-karya Olafur baru benar-benar “selesai” ketika ada keterlibatan aktif dari kita (juga mereka) yang mengalaminya. 

Pameran ini mengajak kita untuk memperlambat langkah, menyelaraskan indera, dan kembali menyadari keberadaan diri—di dalam museum, dan di tengah dunia yang terus bergerak cepat. Ia bukan hanya tentang melihat seni, tetapi tentang merasakan kembali hubungan kita dengan ruang, waktu, dan lingkungan sekitar.

Lebih jauh, ‘Your Curious Journey’ membuka kemungkinan bahwa ketidakpastian bukanlah sesuatu yang harus dihindari, melainkan pintu masuk bagi rasa ingin tahu. Dengan ‘mata terbuka’, Olafur mengajak kita merangkul ketidaktahuan sebagai bagian dari proses memahami. Sikap yang semakin relevan di tengah dunia yang kerap menuntut kepastian instan.


Fragmen, Indera, dan Seni Melihat Dunia

“Karya-karya ini baru akan lengkap ketika Anda, sebagai pengunjung, terlibat dengannya—dengan rasa ingin tahu Anda,” ujarnya. 

“Ketika diliputi rasa penasaran, berarti Anda membuka diri dan bersedia untuk mendengar, melihat hal yang tak terduga, sekaligus terbuka pada perubahan. Karena itu, sudah selayaknya kita berani memiliki perspektif yang berbeda.”

Olafur menyinggung ‘Multiverses and Futures (2017)’ yang turut dipamerkan di Jakarta. Ketika kita memicingkan mata dan menembus struktur geometris modular yang menyerupai tabung optik itu, kita akan menyadari bahwa pandangan kita akan tertuju pada hal-hal yang parsial dan tidak familiar dengan yang biasa kita lihat.

“Seperti keseluruhan pameran ini, karya tersebut mengajak pengunjung menggunakan seluruh inderanya—memahami ulang persepsi tentang diri sendiri, museum, dan dunia yang kita huni bersama.”

Museum MACAN juga menghadirkan tiga karya terbaru Olafur: ‘Complementary Colour Chart (2009)’, ‘Your Split Second House (2010), dan Dusk to Dawn, Bosphorus (2024).***

Artikel ini juga tayang dimuat di : Inflight Magazine LIONAIRGROUP Edisi Mei-Juni 2026

Share
Deheng House
Nyonya Secret

Pilihan Redaksi

Berita Terpopuler

Berita Terbaru