Peninggalan Megalit adalah bukti adanya kebudayaan ribuan tahun silam disini, dilembah Lore. Tepat di jantung Sulawesi.
Baru hampir satu jam sepeda motor kami melaju meninggalkan Kota Palu, hujan sudah mengguyur dengan derasnya. Terpaksa kami menepi untuk berteduh di salah satu bengkel, walau harus berdesakan dengan beberapa pengendara lain. Arah yang kami tempuh masih berjarak sekitar lima sampai enam jam perjalanan.
Waktu sudah menunjuk jam lima Sore. Seharusnya kami berangkat dari siang untuk menghindari hujan disore hari atau kemalaman dijalan. Tapi karena beberapa hal, akhirnya jam berangkat jadi molor. Setelah agak redah, kami kembali melanjutkan perjalanan menyusuri jalan beraspal dan berbukit tiada henti. Saya sempat merasa kewalahan dan was-was menghadapi jalan yang terus menanjak memasuki kawasan Taman Nasional Lore Lindu, apalagi motor yang saya gunakan berjenis matic.
Namun Setelah tiga jam lebih menyusuri pegunungan, kami akhirnya tiba di Wuasa, Lembah Napu, Lore Utara. disini kami menyempatkan istirahat di salah satu rumah teman yang seorang pegawai bank negeri dan digunakan sebagai tempat tinggal bersama dengar karyawan lain.
Rute yang akan kami tempuh masih sekitar dua jam untuk sampai di tujuan utama kami yakni situs Tadulako dan Situs Pokekea di lembah Behoa, Lore Tengah. Medan jalannya pun lebih berpariasi, selain aspal yang sudah mulai rusak. Juga masih ada jalan yang berkerikil dan licin. Apalagi dimusih hujan, longsor iba-tiba di beberapa titik rawan membuat kami waspada.
Motor matik yang saya bawa tadi saya tukar pinjam dengan motor besar, mengingat jalur yang akan dilewati nanti. Belum lagi gerimis yang sedari tadi tak kunjung berhenti.
Malam semakin dingin, kami melanjutkan perjalan menembus lembah dan pegunungan sembari berharap tidak menemukan kendala dijalan. Tapi kenyataannya kami hampir putar arah untuk pulang. Salah satu titik rawan terjadi longsor dan ada kendaraan yang terjebak lubang lumpur dengan posisi jalan yang sempit. Untunglah kendaraan motor bisa lewat walau harus ekstra hati karena jalut sempit dengan antrian mobil yang tidak bisa lewat dan sisi Sebelahnya adalah jurang.
Sesampainya di Lembah Besoa, Kami langsung menuju ke Situs Pokekea yang berada ditengah lembah. Mendirikan tenda dan beristirahat dengan harapan besok cuaca cerah. Sebelumnya kami sudah menghubungi penjaga situs dan meminta ijin untum berkemah dikawasan situs.
Situs Megalitikum
“Sunrise, Sunrise” teman saya setengah berteriak sambil menggoyang tenda dan berhasil membangunkan saya dengan setengah kaget. Tak ingin menyia-yiakan kesempatan. Kami bergegas menganbil kamera dan mulai mengambil gambar batu megalit disekitaran situs. Hawa sejuk khas lembah menyambut pagi kami diiringi cahaya matahari yang memulai menghangatkan suasana sambil memandangi hamparan lembah hijau dikelilingi bukit-bukit nan indah menjadi obat penghilang lelah kami selama diperjalanan.
Situs Pokekea adalah satu dari sekian situs yang tetdapat di tiga lembah utama tempat penyebaran batuan purba ini, yakni Lembah Bada di Lore Barat, Lembah Napu di Lore Utara dan Lembah Behoa di Lore Tengah semuanya masuk dalam Kabupaten Poso. Di Pokekea sendiri terdapat banyak Kalamba berbentuk seperti loyang besar berbagai ukuran. Masyarakat meyakini sebagai tempat mandi putri raja. Juga ada yang menganggap sebagai kuburan orang-orang dulu. Juga terdapat menhir berbentuk manusia ditengah-tengah situs ada yang berdampingan dan berdiri sendiri dibekang.
Megalith pertama kali ditemukan dilembah Bada sekitar tahun 1908, namun sampai saat ini belum ada yang bisa memastikan kapan batuan purba ini dibuat. Penelitian terakhir mengatakan megalit yang berbentuk Tugu (Menhir), Bejana Batu (Kalamba), Meja Batu (Dolmen) dan Tempat Jenazah (Sarkofagus) ini berusia ribuan tahun.
Meski tak setenar Patung Moai di Pulau Paskah atau Batu Guci di Laos, batu megalit yang terletak di jantung Sulawesi Kawasan Taman Nasional Lore Lindu, Poso, Sulawesi Tengah ini tak pernah sepi dikunjungi peneliti dan wisatawan lokal dan mancanegara.
Selain situs Pokekea, kami juga menyempatkan diri mengunjungi Patung Tadulako dan Rumah Adat Tambi. Tadulako dipercaya sebagai panglima perang yang yang tersisa dari sebuah perang suku, versi lain adalah penjaga desa yang dikutuk karena mencuri beras. Tadulako oleh masyarakat Sulawesi Tengah banyak digunakan untuk penamaan baik nama lembaga, komunitas ataupun universitas.
Dilembah Behoa ini sebenarnya masih banyak megalit yang tersebar dan membutuhkan waktu yang cukup lama bila ingin mengunjungi semua. Namun dua lokasi ini sudah cukup mewakili. Kami pun bergegas pulang agar bisa melihat beberapa patung megalit berbentuk manusia yang ada disekitar pekarangan rumah warga di Lembah Napu.
Lore lindu dan sekitarnya ditetapkan UNESCO menjadi Cagar Biosfer dari tahun 1977, sehingga perhatian dan pengawasan sangat diharapkan demi terjaganya peninggalan kebudayaan megalit di Taman Nasonal Lore Lindu.
Saya pun bangga bisa mengabadikan bukti peninggalan kebudayaan zaman megalitikum di Kawasan Taman Nasional Lore Lindu berharap tetap terjaga dan menjadi salah satu destinasi favorit di Indonesia.(*)