calon-lawan-di-balik-perebutan-pengaruh-kekuasan
Pementasan berjudul ‘Calon Lawan’ yang digelar di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 20–21 Oktober 2023. | DOC. DIDI MUGITRIMAN/ @matapanggung/ HO
Art & Culture
Calon Lawan: Di Balik Perebutan Pengaruh & Kekuasan
Devy Lubis
Sun, 22 Oct 2023
Produksi ke-40 teater Indonesia Kita di bawah arahan tim kreatif Agus Noor dan Butet Kartaredjasa digelar empat bulan sebelum Pemilihan Presiden 2024 mendatang.

Pementasan berjudul ‘Calon Lawan’ yang digelar di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 20–21 Oktober 2023, menjadi momen warming up bagi publik maupun para kontestan calon Presiden sebelum maju berlaga.

“Sebentar lagi ramai pesta elektoral. Kita akan melihat kontestasi para pemimpin untuk mendapatkan panggung pemberitaan. Dan biasanya, pada saat seperti itulah, para pemimpin membutuhkan panggung seni sebagai bagian yang meramaikan panggung politik mereka,” ujar Agus Noor, penulis dan direktur artistik ‘Calon Lawan’.



Mereka (para pemimpin), lanjutnya, akan datang ke konser musik, tapi bukan untuk menonton, melainkan agar mendapat sorotan dan eksistensinya terjaga di banyak media. “Acara-acara seni banyak digelar dan diadakan dalam keriuhan politik, tetapi semua itu hanya menjadi cara untuk mengundang dan menghibur massa,” tambahnya.

Cerita ‘Calon Lawan’ dengan tepat dihadirkan dengan beragam sentilan tahun politik. Terutama melihat begitu riuhnya panggung politik di menjelang akhir tahun ini, di mana semua calon seolah-olah berebut tampil di hampir setiap kesempatan dan acara-acara publik termasuk pertunjukan kebudayaan.



Seperti biasa, Indonesia Kita yang identik dengan kritik segar mengusung sentuhan budaya di setiap pementasannya. Kali ini, Agus Noor memilih olahan seni bela diri wushu untuk memunculkan nuansa persaingan dan pertarungan antara lawan-lawan yang tengah beradu kekuatan.

Baca: Indonesia Kita Pentaskan Calon Lawan di Tahun Politik



Jalinan cerita ini mengingatkan penonton pada kisah- kisah silat dan bela diri. Namun di sisi lain, penonton diajak untuk menyadari bahwa pertarungan antar kelompok yang kemudian malah bersatu, juga muncul di panggung politik.

Calon-calon yang tadinya tampak berlawanan dan bermusuhan, bahkan meletupkan bumbu perseteruan di antara para pendukungnya, pada akhirnya malah berada dalam satu kubu. Yang sebelumnya tampak beroposisi, menjadi saling mendukung.



“Indonesia Kita selalu mencoba berperan sebagai refleksi atas apa yang terjadi di negara ini. Dengan cara budaya, kami berupaya mengingatkan terutama bagi para wakil rakyat untuk tidak melupakan dan meninggalkan janji-janji mereka di hadapan para pemilih,” cetus Butet Kartaredjasa, pendiri Indonesia Kita.



Di sisi lain, Butet berharap lakon ‘Calon Lawan’ bisa mengajak para penonton untuk menyambut pesta elektoral dengan santai dan gembira. Dan, tentunya tetap kompak dalam perbedaan pilihan dan pendapat.

“Tidak perlu kita sampai harus berseteru di level horizontal, karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di panggung politik yang sesungguhnya nanti. Marilah kita terus bersatu dalam kebhinekaan kita,” tegasnya.


Share

Pilihan Redaksi

Berita Terpopuler

Berita Terbaru