Di awal Januari 2026 ini, seperti biasa pagi datang dengan cara yang sederhana. Tanpa notifikasi, tanpa alarm digital. Hanya cahaya matahari yang jatuh pelan di halaman rumah. Di depan rumah, berdiri sebuah tanaman yang sudah lama ada. Bertahun-tahun tumbuh diam, tanpa pernah saya tanyakan namanya. Bentuknya menyerupai lidah buaya.. Daun-daun tebal, kaku, runcing, seolah menyimpan air dan rahasia. Ia hadir sebagai latar, bukan subjek perhatian.
Hingga suatu hari, dari tengah himpunan daunnya, muncul sesuatu yang membawa tanya. Sebuah batang yang menjulang cepat, menembus kebiasaan diamnya. Dalam hitungan hari, ia naik, terus naik hingga kini sekira dua meter ke atas. Seperti penanda yang ingin dilihat langit. Pagi ini, di ujung batang itu, bunga yang tadinya hijau akhirnya mekar. Kuning. Indah. Tegas namun lembut. Saya memotretnya, lalu mencari namanya. Google menyebutnya: Agave.
Agave adalah tanaman yang mengajarkan kesabaran dalam diam. Ia tumbuh perlahan, bahkan puluhan tahun, sebelum akhirnya berbunga. Dalam ilmu botani, Agave dikenal sebagai tanaman monokarpik—ia hanya berbunga sekali seumur hidup. Setelah berbunga, ia bersiap menuju akhir.
Seluruh energi yang dikumpulkannya bertahun-tahun dicurahkan untuk satu momen puncak: mekar yang sempurna. Di situlah pelajaran itu mengetuk kesadaran.
Kita hidup di zaman ketika teknologi mempercepat segalanya. Informasi berlari, prestasi dituntut instan, kesuksesan diukur oleh kecepatan. Kita diajari untuk segera terlihat, segera viral, segera naik.
Namun Agave menolak logika itu. Ia memilih tumbuh dalam sunyi, menguatkan akar, menebalkan daun, menyimpan daya. Ia tidak tergesa ingin dilihat. Ia menunggu waktu yang tepat. Waktu yang ia pahami sendiri.
Spiritualitas bekerja seperti Agave. Ia tidak selalu tampak di permukaan. Ia tumbuh perlahan di dalam keheningan, dalam perenungan, dalam kesetiaan menjalani hal-hal kecil yang sering tak tercatat. Spiritualitas tidak menjanjikan kecepatan, tetapi ia menawarkan arah. Ia tidak membuat hidup terasa instan, tetapi membuatnya bermakna.
Agave juga mengajarkan tentang fokus hidup. Seluruh eksistensinya diarahkan pada satu puncak pengabdian. Ia tidak berbunga berkali-kali untuk sekadar menunjukkan keindahan. Ia menunggu hingga waktunya matang, lalu memberikan yang terbaik, tanpa sisa.
Bukankah hidup manusia juga demikian? Bahwa hidup bukan tentang sering tampil, tetapi tentang kapan dan untuk apa kita hadir? Dalam dunia yang sibuk mengejar apa selanjutnya, Agave mengingatkan tentang untuk apa semuanya. Teknologi boleh membantu kita bergerak lebih cepat, tetapi tanpa spiritualitas, kita hanya berlari tanpa kompas. Kita bisa sampai lebih dulu, tetapi tidak tahu apakah tujuan itu layak.
Mekarnya Agave pagi ini seperti zikir visual. Ia tidak bersuara, tetapi pesannya lantang: bahwa hidup tidak harus tergesa untuk menjadi berarti. Bahwa ada waktu untuk diam, waktu untuk tumbuh, dan waktu untuk mekar. Bahwa keindahan sejati sering lahir dari kesabaran yang panjang.
Dan ketika akhirnya kita mekar—entah dalam karya, pengabdian, atau kebijaksanaan—semoga itu bukan sekadar untuk dilihat, tetapi untuk memberi makna. Seperti Agave, yang mekar bukan karena ingin dipuji, tetapi karena ia setia pada fitrahnya. Teknologi mempercepat hidup. Tetapi spiritualitaslah yang memastikan kita tidak tersesat di dalamnya. (***)
