Engkau bukan kemegahan. Bukan pula cahaya yang membakar mata. Engkau hanya seiris luka di wajah langit. Orang-orang menyebutmu hilal.
Setiap menjelang Idulfitri, namamu kembali dipanggil. Dicari dengan teleskop, ditunggu dengan doa, diperdebatkan dengan ilmu. Seolah nasib waktu bergantung pada lengkung kecilmu. Padahal engkau hanyalah pantulan cahaya. Sebuah tanda dari sesuatu yang lebih besar dari dirimu sendiri.
Namun, justru di situlah rahasiamu.
Dalam jalan sufistik, yang kecil seringkali adalah pintu menuju yang tak terhingga. Yang redup justru menjadi jendela bagi cahaya yang hakiki. Engkau, wahai hilal, mengajarkan bahwa kebesaran tidak selalu datang dalam bentuk yang utuh. Kadang hadir sebagai serpihan,sebagai isyarat, dan sebagai bisikan.
Engkau adalah bulan yang “terluka”. Belum sempurna. Belum bulat. Tapi dari ketidaksempurnaanmu, manusia belajar membaca waktu, menentukan ibadah, bahkan merayakan kemenangan ruhani. Betapa paradoks yang indah. Dari yang tampak “kurang”, lahir makna yang begitu penuh.
Bukankah demikian pula jiwa manusia?
Kita datang kepada Tuhan bukan dalam keadaan sempurna. Kita membawa retak, dosa, dan luka. Kita datang seperti hilal. Tipis, rapuh, hampir hilang dalam gelap. Namun justru dari sanalah cahaya Ilahi memantul. Bukan karena kita terang, tetapi karena kita bersedia menerima terang.
Para sufi berkata: “Cahaya Tuhan tidak turun pada hati yang penuh oleh dirinya sendiri.” Ia memilih hati yang retak, yang kosong, yang sadar akan kefakirannya. Seperti langit yang gelap, yang membuat hilal tampak.
Hilal tidak bersinar dari dirinya sendiri. Ia hanya memantulkan. Dan di situlah kesadarannya: menjadi cermin, bukan sumber. Menjadi penerima, bukan pemilik.
Maka barangkali, menjelang Idulfitri ini, yang kita tunggu bukan sekadar kemunculan hilal di langit. Tetapi kemunculan “hilal” di dalam diri—seiris kesadaran yang jujur bahwa kita ini kecil, rapuh, dan sepenuhnya bergantung.
Ketika kesadaran itu lahir, meski hanya setipis hilal, ia cukup untuk mengubah arah hidup. Ia cukup untuk menandai berakhirnya gelap dan dimulainya terang.
Sebab dalam jalan menuju Tuhan, tidak dibutuhkan cahaya yang besar.
Cukup satu lengkung kecil, yang bersedia memantulkan-Nya.